Ya Allah, Aku Mencintainya

35
Aku diam, tak bergeming dengan balasan pesannya.
“Aku memutuskan untuk diam. Sekalipun diamku akan melahirkan sepi tapi aku telah memutuskan. Diam. Bersedia setia menunggumu sampai kau akan menemuiku suatu waktu.”
 
Ya Allah, aku tahu, aku tak punya kuasa untuk meminta ini padaMu. Hidupku tentu saja milikmu, takdirku pun ada dalam kehendakMu. Aku ini hanya perempuan hina yang seringkali merasa bodoh. Aku tentu aku tak ingin merasa bodoh.
Tetapi malam ini aku meminta padaMu, suatu pinta yang teramat bodoh. Hanya aku yakin, begitu yakin, bahwa kebodohan itu begitu dekat dengan tulus. Aku yakin pintaku ini memang bodoh karena itu aku harap ini adalah pinta yang tulus.
Satu hal Ya Allah, aku jarang se-mellow ini, tapi dulu pernah kayanya. Kau tentu tahu ingatanku cukup baik untuk mengingat kisah hidupku sendiri. Yaudah, aku mau langsung to the point aja ya. Aku hanya ingin sedikit berubah wujud. Ini bukan karena aku tidak bersyukur menjadi manusia, ini tentang karuniamu bernama cinta. Iya, cinta, tak salah lagi. Ya Allah aku mengaku walaupun aku pernah ragu, tapi aku mencintainya. Ya Allah aku minta kepadaMu: jadikanlah perempuan hina ini menjadi gadget miliknya. Aku ingin menjadi hape yang selalu ada dibawanya.
Kau pasti tertawa dengan apa yang kuminta sekarang. Aku yang sekarang menjadi benda hidup kenapa justru meminta untuk menjadi benda mati? Kocak banget ya permintaanku ini?. tapi setidaknya dia tak mengenalku lagi. Tentu dia tak akan mengingat wajahku lagi.
Ya Allah, bahkan dalam pintaku sekarang ini aku masih menanti dan berharap padanya. Harapan yang aku sendiri tak tahu sebenarnya apa yang benar-benar aku inginkan itu. Tapi satu hal yang bisa aku pikirkan saat ini adalah, menjadi hape. Jika ini jalan yang harus aku tempuh, aku akan mengambil konsekuensinya. Kemungkinan ada satu yang akan menyergapku nanti : disergap sepi karena kamu hanya menganggapku hape.
Hiks,,, apa boleh buat, aku hanya meminta menjadi hape. Kau tau kenapa aku meminta untuk menjadi hape? karena setidaknya benda itu yang selalu kau bawa kemana-mana. Aku tau kemana saja kau pergi. Aku tau apa saja yang kau cakapkan bersama teman-temanmu lewat media bbm, line, dll. Aku mampu membuatmu merasa sepi jika kamu tak membawaku. Aku mampu mengetahui siapa saja yang pernah kau telpon. Aku mampu membuatmu mengalihkan perhatianmu setidaknya dari orang yang tengah mengobrol di sampingmu. Mungkin saja aku yang akan selalu kau genggam saat kau tertidur pulas. Bisa jadi saat kau mandi pun tetap membawaku.
Jika aku menjadi hape, bisa jadi aku mampu mendeteksi detak jantungmu, hela nafasmu, denyut nadimu lewat getar tanganmu saat menyentuhku. Aku mungkin saja mampu mendeteksi apakah kamu marah ketika membaca line, bbm, atau sms dari seseorang. Aku bisa melihat ulasan senyum yang mengembang di wajahmu ketika menerima sms, line, atau bbm dari orang lain.
Suatu malam, aku begitu sangat merindukanmu. Tapi aku hanya bisa diam. Karena kamu tak mengijinkanku untuk menghubungimu. Lalu aku berpikir aku ingin menjadi hapemu saja. Tak perlu kau suruh bungkam, aku tetap ada di genggamanmu. Kau bawa aku kemana pun kau pergi. Kau tak pernah ingin berjauhan dariku. Aku yang selalu ada dan kau tak pernah merasa bosan untuk menyentuhku. Melihatku. Memperhatikanku. dan selalu ada di dekatmu.
Saat aku menjadi hapemu, andai kamu bertanya, kenapa aku mau jadi hapemu? kenapa tidak jadi yang lain saja. Aku pasti hanya bisa tersenyum lirih. Yah, terkadang cinta yang terlalu lama menunggu bisa juga jenuh, ia perlu tindakan-tindakan di luar nalar, untuk membuatnya kembali segar.
 
Yaudahlah. Cukup dengan permintaan konyolku ini. Kuharap kau tak pernah lelah dan bosan padaku sama seperti kau yang tak pernah absen membawa gadgetmu itu. Kuharap kau segera memberi kabar. Aku yakin Allah pun mulai bosan dengan doaku tentangmu.
Aku mencintaimu…
Itu sebabnya aku tak pernah selesai mendoakan keselamatanmu…

Comments

Ingin menambahkan sesuatu? Tulis aja di bawah